Pelatihan Ditutup tapi Kelola Sampah Jangan Berhenti

Rangkaian pelatihan pengelolaan sampah organik dan anorganik di kawasan Opak Zoo ditutup. Pelatihan yang berlangsung setiap hari Minggu sejak 20 September 2020 itu diakhiri dengan pelatihan membuat Kokedama dan pupuk kompos, pada Minggu (11 Oktober 2020). Pelatihan yang diikuti 120 kader lingkungan dari tiga desa tersebut ditutup oleh Camat Pundong Nanang Dwi Atmoko S.Sos.

“Kendati acara pelatihan ditutup hari ini, tapi ibu-ibu peserta pelatihan jangan berhenti mengelola sampahnya. Ilmu yang telah didapat dalam empat kali pertemuan ini, praktikkan di rumah. Tularkan ke tetangga, atau anggota kelompok PKK sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat dan membantu pemerintah untuk mewujudkan Bantul bebas sampah, “ pesan Nanang Dwi Atmoko saat menyampaikan sambutan sebelum menutup kegiatan.

Camat Pundong Nanang Dwi Atmoko memberikan sambutan sebelum menutup acara.

Nanang menambahkan, berbagai ilmu yang disampaikan para narasumber benar-benar sangat bermanfaat. Hal tersebut dikatakan setelah ia ikut mendengarkan materi pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi kompos yang disampaikan Nike Triwahyuni. Dosen Institut Pertanian INTAN Jogja ini merupakan ahli kompos.

Nanang pun berjanji mempraktikkan pengelolaan sampah organik rumahnya dengan teknologi Ember Tumpuk yang disampaikan Bu Nike. Termasuk memanfaatkan MOL nasi basi yang ditunjukkan saat presentasi. “Selama ini banyak saya buang nasi basi di rumah. Ternyata bisa dimanfaatkan seperti itu, “ tambahnya.

Penutupan kegiatan yang digelar Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Bersaudara Kecamatan Pundong bersama Paguyuban Bank Sampah DIY ini juga dihadiri Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas Karyana ST. Hadir juga Kepala Desa Srihardono, Awaludin dan sejumlah pengurus dan pegiat Paguyuban Bank Sampah DIY.

Nike Triwahyuni saat menyampaikan materi pengelolaan sampah organik.

Sebelumnya, Ketua JPSM Kecamatan Pundong Musnam SE melaporkan penyelenggaraan kegiatan. Dikatakannya, kegiatan ini berjalan dengan baik karena dukungan sejumlah pihak. Mulai dari DLHK Bantul, Pemerintah Kecamatan Pundong, Pemerintah Desa Srihardono, Desa Seloharjo dan Desa Panjangrejo. Juga dukungan dari BPD Bantul serta Swalayan Purnama. Musnam berharap kegiatan semacam ini bisa kembali diadakan di lain kesempatan.

Salah satu peserta, Orin, menyampaikan kesannya mengikuti pelatihan. Menurutnya, ilmu yang didapat benar-benar sangat bermanfaat. Apalagi mengenai pengelolaan sampah organik maupun anorganik. Istri seorang kepala dukuh ini menyampaikan terima kasih kepada para narasumber dan berjanji akan mempraktikkannya di rumah. Dia juga mengajak peserta lain untuk mempraktikkan apa yang diperoleh selama pelatihan.

Motivasi senada juga disampaikan oleh Karyana ST. Selain mengucapkan terima kasih kepada para narasumber dan panitia, Karyana yang mewakili DLHK Bantul mengharap para peserta tidak patah semangat dalam mengelola sampah. Melakukan upaya pengurangan sampah harus terus dilakukan agar TPA Piyungan tidak bertambah bebannya.

Karyana saat memberikan motivasi kepada para peserta pelatihan.

“Pengolahan sampah organik rumah tangga ini sangat penting sehingga tidak banyak yang dikirim ke TPA. Juga mengurangi pembakaran sampah seperti yang selama ini masih terjadi,“ katanya.

Peserta pada pelatihan di hari terakhir kemarin terlihat sangat antusias. Mereka langsung praktik membuat Kokedama setelah mendapat materi dari Sri Barjini. Menggunakan lumut kering yang telah disediakan, mereka membentuk bulatan dan meletakkan tanaman di atasnya. Kemudian, lumut tersebut dililit dengan benang yang mereka siapkan. Sehingga lilitan benang tersebut membentuk bulatan lumut menjadi semacam pot. Tanaman beserta pot dari lumut ini kemudian diberi gantungan tali. Kokedama pun bisa dipasang dengan mudah.

Saat menyampaikan pengelolaan sampah dapur dengan ember tumpuk, Nike mengatakan bahwa akan didapat dua jenis pupuk. Ember yang di atas menghasilkan pupuk kompos padat sedangkan ember yang di bawah pupuk organik cair (POC). Dan di ember atas akan banyak set atau pupa dari lalat hitam. “Nggak usah takut. Itulah yang akan membantu mengurai sampah organik kita,“ urainya.

Nike juga menyinggung bahwa sampah organik merupakan jenis sampah terbesar yang diproduksi oleh rumah tangga. Dibanding sampah anorganik seperti kertas, plastik, mika, dan lainnya. Dengan mengolah sampah rumah tangga, berarti kita mengolah sebagian besar sampah produksi kita.

Kendati acara pelatihan ditutup hari ini, tapi ibu-ibu peserta pelatihan jangan berhenti mengelola sampahnya. Ilmu yang telah didapat dalam empat kali pertemuan ini, praktikkan di rumah. Tularkan ke tetangga.

Seperti hari Minggu sebelumnya, selain pelatihan juga digelar Pasar Daur Ulang Bank Sampah DIY. Pasar Daur Ulang ini digelar di kompleks wisata Opak Zoo yang berada di tepi Kali Opak. Tempat wisata lokal inisiatif warga yang ramai setiap akhir pekan. Kebanyakan para goweser yang mampir untuk wisata atau istirahat menikmati kuliner yang ada di tempat ini. (*)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *