Dari Green School, Perubahan Pola Hidup hingga Terbatasnya TPA

Workshop online Cerdik Mengelola Sampah Berbasis Kearifan Lokal seri terakhir berlangsung untuk warga Jawa Tengah. Banyak hal menarik terungkap dalam workshop ini. Baik yang disampaikan para narasumber saat diskusi panel, maupun dari peserta dan narasumber lain.

Ada lima sumber permasalahan sampah di Jawa Tengah. Ini menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Kelima sumber tersebut adalah pertambahan penduduk, perubahan pola konsumsi, paradigma dan perilaku masyarakat, tingkat pelayanan sampah yang terbatas serta daya tampung TPA.

Agung Triharnadi dari DLHK Jawa Tengah.

Kelima hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Seksi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Jateng Agung Triharnadi.  Agung mewakili Kepala DLHK Jateng menjadi narasumber di Workshop Online Cerdik Mengelola Sampah Berbasis Kearifan Lokal Jawa Tengah. Workshop ini diselenggarakan oleh Pusat Latihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan (Puslatmas PGL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KLHK dengan Yayasan Mekar Pribadi.

Workshop berlangsung selama tiga hari Senin – Rabu (12-14 Oktober 2020). Diikuti oleh para pelajar sekolah menengah atas (SMA/SMK) dari sejumlah kota di Jateng. Di antaranya dari Semarang, Kudus, Surakarta, Demak, Ungaran, Banyumas, Temanggung. Ikut pula sejumlah karyawan TVRI Stasiun Semarang.

Kelima masalah sampah tersebut kemudian lebih dirinci. Misalnya pertambahan jumlah penduduk itu meningkatkan volume sampah, jenis dan karakter sampah. Perubahan pola konsumsi menyebabkan meningkatnya sampah seperti kemasan plastik, styrofoam, tas belanja dan kotak nasi.

“Permasalahan sampah juga muncul karena sarana dan prasarana yang terbatas, SDM yang menangani sampah juga terbatas, dan anggaran juga terbatas. Hal tersebut ditambah lagi dengan kondisi TPA dengan lahan yang terbatas dan pemrosesan yang belum sesuai ketentuan,“ papar Agung.

Agung lantas menegaskan bahwa workshop semacam ini sangat penting guna membantu mengatasi dan mengurai permasalahan sampah. Dia pun berharap dari workshop ini para peserta bisa menularkan ilmunya kepada  orang dekat di sekitarnya.

Dr Padmaningrum

Relevan dengan permasalahan sampah yang ada, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah pun menginisiasi program Green School. Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Dr. Padmaningrum, SH, MPd yang tampil menjadi narasumber memaparkan program ini.

Program Sekolah Hijau atau Green School tersebut dijabarkan dalam tiga langkah. Pertama pembelajaran lingkungan hidup sesuai dengan mata pelajaran yang ada. Kedua mengarah pada pembentukan kepedulian siswa terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan penyuluhan lingkungan dan lomba karya lingkungan. Ketiga, bidang pengelolaan lingkungan sekolah, melalui pemanfaatan dan penataan lahan sekolah dan pengelolaan lingkungan sosial.

Padmaningrum lantas mencontohkan salah satu sekolah menengah atas di Semarang yang sudah menjadi Sekolah Hijau. Di sekolah tersebut, siswa diajarkan mengelola sampah organik maupun organik. Sampah organik yang dikompos menjadi pupuk, dimanfaatkan untuk menanam beragam sayuran. Penanaman memanfaatkan sampah organik yang ada di sekolah seperti bekas gelas dan botol minuman. Sekolah kemudian memiliki kebun sayur yang hasilnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah.

Workshop yang diselenggarakan untuk generasi muda Jawa Tengah ini merupakan rangkaian safari workshop yang digelar Puslatmas PGL KLHK. Pertama dilakukan untuk generasi muda di Kalimantan Barat (Pontianak dan sekitarnya), kedua untuk Bali (Denpasar, dan kabupaten sekitarnya), ketiga untuk generasi muda di Maluku (Kota Ambon dan Kabupaten Buru).

“Workshop di Semarang, Jawa Tengah ini merupakan penutup dari rangkaian workshop yang digelar Puslatmas PGL KLHK untuk tahun 2020,“ tegas Kepala Bidang Penyelenggaraan Ekspos Generasi Lingkungan Puslatmas dan PGL KLHK, Susy Herawati, SE, MSc. Susy menutup rangkaian workshop ini mewakili Kepala Puslatmas dan PGL Cicilia Sulastri, SH, MSi.

Contoh Losida yang menjadi bahan praktik.

Pelaksanaan workhsop ini memang tidak seperti workshop yang selama ini digelar. Para peserta workshop tidak hanya mendengarkan paparan dari narasumber. Mereka diminta aktif melakukan praktik. Baik yang menyangkut pengelolaan sampah, maupun nilai budaya kearifan lokal yang bisa mendukung gerakan pengelolaan sampah.

Setiap lokasi diikuti 100 peserta. Mereka diminta mengerjakan tugas pribadi maupun kelompok. Ada materi membuat pantun (Kalbar), Jejangeran (Bali), pantun (Maluku) dan parikan (Jateng). Ada materi membuat video pendek pengelolaan sampah yang kemudian diunggah ke akun medsos peserta. Ada tugas membuat Losida (lodong sisa dapur) untuk mengelola sampah organik sisa dapur. Ada pula penyusunan rencana aksi yang dilakukan oleh kelompok. 100 orang peserta tersebut dibagi menjadi 20 kelompok saat menyusun rencana aksi.

Rencana aksi ini harus mudah diwujudkan, terukur, dan berkaitan dengan upaya pengelolaan sampah dengan 3R (reduce, reuse, recycle). Bahkan, kendati workshop selesai, para peserta tetap mendapat pendampingan untuk mewujudkan rencana aksinya ini.

Para narasumber utama terlibat di semua wilayah pelaksanaan. Sedangkan narasumber tambahan melibatkan pegiat lingkungan dan budayawan di masing-masing wilayah. Narasumber di semua wilayah tersebut di antaranya Dr Meuthia Alvernia Naim (Pusdiklat SDM LHK), Erwan Widyarto (Bank Sampah Griya Sapu Lidi, Jogja), dan Oetari Noor Permadi (Yayasan Mekar Pribadi).

Sedangkan pegiat lingkungan dan budayawan yang terlibat di antaranya R Giring (Pontianak), Anak Agung Gede Oka Dalem (Ubud, Bali), Catur Yudha Hariani (PPLH Bali), Irene Sohilait (Green Moluccas), Eliza Marthen Kissya (Pulau Haruku), Darmadi (Solo) dan Sri Ismiyati (APL, Semarang). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *