Ahli Kimia: Hindari Wadah Plastik Berkode 6, Ada Apa?

Dari hari ke hari, ketergantungan orang terhadap plastik semakin tinggi. Namun bahaya yang ditimbulkannya masih belum disadari. Perkembangan yang sangat pesat  dari industri polimer sintetik membuat kehidupan kita selalu dimanjakan oleh kepraktisan dan kenyamanan dari produk yang dihasilkan. Tetapi di balik itu, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahaya dari plastik, dan cara penggunaan yang benar.

Hal tersebut bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang dengan santai menggunakan plastik, baik kresek hitam maupun plastik bening, untuk wadah gorengan yang baru diangkat dari penggorengan.

Padahal wadah berbahan plastik, sangat berbahaya jika kena panas. Bisa mengeluarkan dioksin. Senyawa yang bisa memicu penyakit kanker. “Jadi, saya mengingatkan kembali, ibu-ibu, bapak-bapak untuk tidak mewadahi gorengan yang masih panas dengan plastik. Kresek hitam maupun plastik bening, tetap bahaya kalau kena panas. Lebih baik membawa rantang untuk mewadahi gorengan,“ pesan Cahya Widiyati, dosen mata kuliah Kimia Dasar serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja dari Politeknik ATK, Yogyakarta.

Perempuan yang pernah menjadi Direktur Politeknik ATK 2007-2010 ini menyampaikan pesannya saat menjadi narasumber Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik, Jumat (18/12). Pelatihan diikuti oleh pegiat lingkungan yang tergabung dalam Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati, Kabupaten Sleman.

Direktur Politeknik ATK Yogyakarta Drs. Sugiyanto, S.Sn, M.Sn

Pelatihan berlangsung selama empat hari pertemuan melalui Zoom. Kegiatan pelatihan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat Teknologi Pengolahan Karet dan Plastik, Politeknik ATK dan Kementerian Perindustrian. Hari pertama, Jumat (18/12) menghadirkan narasumber Cahya Widiyati dan Diana Ross Arief. Pelatihan dibuka oleh Direktur ATK Sugiyanto.

Pada kesempatan itu, Cahya juga menegaskan, bahan plastik itu sebenarnya tidak berbahaya jika digunakan sesuai kegunaan dan peruntukannya. Hanya saja, karena plastik sulit terurai dengan cepat, dampaknya terhadap lingkungan bisa sangat kompleks. Diperlukan sikap yang bijaksana agar plastik tidak menjadi masalah dan membahayakan kehidupan.

“Polusi plastik ini bisa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan alam serta menimbulkan masalah bagi tumbuhan, satwa liar, bahkan manusia. Plastik adalah bahan yang sangat berguna, tetapi juga terbuat dari senyawa beracun yang diketahui dapat menyebabkan penyakit, dan karena dimaksudkan agar awet dan tahan lama, maka plastik tidak dapat terurai secara hayati,“ jelasnya.

Alumni Teknik Kimia UPN Veteran Yogya ini lantas memaparkan jenis-jenis plastik yang selama ini beredar di masyarakat. Kemudian bahaya dan masalah yang bisa ditimbulkannya. Dikatakannya, tempat makan dan botol minum plastik, pada bagian bawahnya, biasanya ada logo segitiga berpanah dengan kode angka 1 hingga 7 di dalamnya. Selain itu, ada pula kode huruf di bawah segitiga tersebut, yaitu PET atau PETE, HDPE, PVC atau V, LDPE, PP, PS, dan OTHER. Itu merupakan kode bahan baku plastik yang digunakan.

Kode 1, PET. Ini kemasan plastik terbuat dari polyethylene terephthalate. Kemasan plastik ini berwarna jernih/bening, permukaannya halus, tidak mudah rusak atau pecah, bisa dipakai untuk makanan atau minuman panas, dan kuat. PETE mampu menghalangi oksigen, air, dan karbondioksida keluar atau masuk. Oleh karena itu, PETE sangat cocok dipakai untuk kemasan minuman ringan berkarbonasi (bersoda), air mineral, jus, minuman olahraga, bir, obat kumur, dan saus.

“Botol plastik berlabel PETE ini aman digunakan, namun hanya untuk satu kali pemakaian saja. Menggunakan kembali botol plastik yang terbuat dari PETE bisa berbahaya. PETE bisa luntur seiring berjalannya waktu dan larut ke dalam minuman. Selain itu, air pada botol yang digunakan ulang akan muncul racun DEHA yang terbukti menyebabkan masalah hati, masalah reproduksi, gangguan hormon, dan diduga menyebabkan kanker,“ terangnya.

Kemudian, kode 2, ini adalah kemasan plastik berjenis high-density polyethylene. HDPE memiliki ketahanan kimia yang baik, oleh karena itu, digunakan untuk membuat botol plastik susu atau jus, sampoconditioner, deterjen, pembersih, oli motor, pemutih, galon air minum isi ulang, dan lain-lain. Botol plastik bertuliskan HDPE aman digunakan lebih dari satu kali.

Kode 3 dengan PVC atau V (polyvinyl chloride). Polivinil klorida (PVC) bersifat stabil, kuat, dan fleksibel. PVC yang bersifat fleksibel digunakan untuk pembuatan penampung sampah medis, tirai kamar mandi, shrink wrap (plastik gulung untuk menutup wadah berisi makanan atau bahan mentah), dan bungkus daging. Sedangkan PVC yang kaku untuk membuat bahan bangunan, seperti pipa, dinding, bingkai jendela, dan pagar. Kode 3, PVC berbahaya untuk makanan karena mengandung polivinil klorida.

Ketua JPSM Sleman Dr Hijrah Purnama

PVC dapat menimbulkan ancaman kesehatan yang serius. Bahan kimia untuk membuat botol plastik PVC diklaim bisa menyebabkan kanker dan menghasilkan polusi klorin yang sangat tinggi. Ketika digunakan, zat aditif pada botol plastik berbahan ini dapat terlepas dan membuat manusia terpapar timbal, timah, serta bahan beracun lainnya. Oleh karena itu, PVC tidak diperbolehkan digunakan sebagai bahan pembuatan kemasan plastik tempat makanan dan minuman.

Kode 4 dengan LDPE atau PE-LD (low-density polyethylene). Plastik jenis ini relatif keras, fleksibel, dan berwarna transparan. Biasanya, plastik jenis ini digunakan untuk kantong plastik belanja, kantong plastik sampah, cling wrapstretch film, tutup minuman, pelapis kertas karton susu, dan mainan.

Kode 5 dengan PP (polypropylene). Jenis bahan plastik ini tahan dengan suhu tinggi. Jenis kemasan berbahan polypropylene ini sering kali digunakan untuk tempat menyimpan makanan, botol minum, botol minuman bayi, wadah yoghurt dan margarin, bungkus makanan, botol obat, saus, dan sirup. “Ini jenis plastik yang sangat aman untuk digunakan sebagai tempat makanan dan minuman,“ ungkapnya.

Kode 6 dengan PS (polystyrene). Kemasan plastik berbahan polystyrene ini bisa dipakai dalam pembuatan cangkir, piring, mangkuk, sendok, garpu, kontainer plastik, botol, tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan sebagainya.

“Namun, kemasan plastik berkode 6 ini dianjurkan untuk dihindari karena dapat membahayakan kesehatan dan sulit didaur ulang. PS mengandung bahan beracun yang diduga dapat mengakibatkan iritasi mata, masalah pencernaan, kanker, dan kerusakan pada sistem saraf.“

Sebagian anggota JPSM Sleman yang mengikuti pelatihan Penngolahan Sampah Plastik oleh Politeknik ATK.

Kode 7 dengan OTHER atau O. Jika botol plastik yang Anda miliki berlabel OTHER di bagian bawahnya, ini berarti tempat minum tersebut tidak terbuat dari enam bahan di atas. Ada empat jenis plastik yang termasuk dalam kategori ini, yaitu styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), polycarbonate (PC).

PC mengandung bisphenol A (BPA) yang diduga dapat menyebabkan kelainan genetik, kanker, penyakit metabolik termasuk obesitas dan diabetes. “Sebelum membeli tempat makan atau botol minum kemasan plastik, disarankan untuk membaca kode di bawah kemasan. Jangan sampai Anda salah pilih atau bahkan membeli botol minum yang tidak berlabel sama sekali. Sudah ada kode, konsumen lalu memilih, maka yang salah bukan produsennya lagi,“ tandas Cahya.

Di bagian akhir paparannya, Cahya juga mengungkap bahaya yang ditimbulkan plastik terhadap kesehatan tubuh. Di antaranya menyebabkan kanker, mengganggu sistem syarat dan memicu depresi.

“Dioksin yang terhirup oleh manusia, bukan cuma sekedar kanker yang ditimbulkan. Sistem saraf pun akan terangsang sehingga menimbulkan kerusakan. Kerusakan sistem saraf ini juga akan berimbas pada kinerja organ dalam lainnya, karena pembakaran plastik yang tidak sempurna. Maka, jangan pernah membakar plastik,“ ingatnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *