Masjid Sangat Berperan dalam Kelola Sampah

Budaya sadar sampah dan hal-hal lain yang terkait dengannya bisa dibangun dari masjid. Karena sejak zaman Nabi Muhammad, masjid adalah pusat peradaban. Dari masjid, nilai-nilai universal bisa dikembangkan.

Ada 741.991 tempat sarana ibadah (Masjid/Musholla) di seluruh Indonesia. Ini tentu adalah potensi kekuatan yang sangat dahsyat untuk mendorong perubahan perilaku di masyarakat dalam pengelolaan sampah.

“Seperti diketahui, Nabi Muhammad dulu membangun peradaban juga dimulai dari masjid. Maka saya berkeyakinan bahwa peradaban dan kultur yang terkait dengan sampah, bisa kita bangun pula dari masjid,“ tegas Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr Novrizal Tahar.

Novrizal menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Sedekah Sampah untuk Memuliakan Bumi yang juga disiarkan lewat kanal Youtube. Acara diadakan oleh Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut bekerjasama dengan KLHK, MUI, LPBI NU, Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Ditegaskannya pula, persoalan sampah adalah hal yang sangat berat dan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Termasuk kolaborasi dengan gerakan-gerakan sedekah sampah berbasis masjid. Dan Novrisal yakin kolaborasi ini akan membawa hasil yang baik.

“Dan Indonesia Bebas sampah 2025 itu bisa kita wujudkan, bisa kita realisasikan. Dan bukan menjadi utopia,“ ujarnya optimis.

Di awal sambutannya, Novrizal Tahar menegaskan bahwa The Future is Green adalah keniscayaan. Pembangunan berwawasan lingkungan, pertumbuhan ekonomi hijau merupakan bentuk-bentuk dari keniscayaan itu.

Pilah Sampah itu Sedekah

Kalau kita mau membangun perilaku yang paling mendasar dalam persoalan sampah, maka dua hal yang harus dilakukan. Pertama membatasi semaksimal mungkin munculnya timbulan sampah,  Yang kedua, semaksimal mungkin kita harus memilah sampah.

“Memilah itu sudah bersedekah bagi pelapak atau pemulung karena dengan dipilah sampah yang kita berikan ke mereka nilainya meningkat, “ pesan Novrizal.

Soal sedekah sampah, Novrizal juga menceritakan pengalamannya. Tahun 2018, katanya, ia berkenalan dengan Ananto Isworo dari Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta. Ananto ini telah lama membangun sedekah sampah.

“Dan tahun lalu, sebelum Covid, kami mengirim Mas Ananto ini ke Perancis. Dan beliau menceritakan tentang gerakan sedekah sampah ini ke seluruh dunia dengan basis masjid, “ cerita pemilik akun IG @novrizaltahar ini.

Setiap Orang Bisa Sedekah

Novrizal lantas melanjutkan cerita soal Ananto ini. Menurutnya, filosofis yang dikembangkan gerakan Ananto ini adalah setiap orang itu bisa bersedekah. Sekalipun ia orang yang sangat miskin.  Kok bisa?

“Bisa, karena orang yang sangat miskin pun menghasilkan sampah. Kalau sampahnya itu kemudian dipilah dengan baik dan kemudian dikumpulkan, dia akan bisa menghasilkan sedekah, dan juga akan memberikan kemaslahatan bagi umat yang ada di masjid tersebut.“

Gerakan sedekah sampah, terlebih yang berbasis masjid, sangatlah sesuai dengan prinsip Islam. Sebagai muslim, kita semua dituntut untuk meningkatkan kesalehan sosial. Salah satu bentuk kesalehan sosial adalah sedekah.

Pemimpin Agama Serukan Peduli Sampah

Novrizal juga mengabarkan, Direktorat Pengelolaan Sampah baru saja mengeluarkan buku. Buku yang memotret kondisi industri daur ulang di Indonesia.

“Baru-baru ini kita telah menerbitkan buku yang memotret kondisi industri daur ulang. Misalnya, industri daur ulang kertas. Setahun itu membutuhkan 7-7,5 juta ton sampah kertas terpilah. Sampai saat ini, dalam negeri belum bisa memenuhinya. Sedangkan untuk industri daur ulang plastik, kapasitas terpasangnya kurang lebih 2 juta ton. Dan pasokan dari dalam negeri baru sekitar 50 persennya,“ paparnya.

Diungkapkannya pula bahwa selama ini pasokan untuk industri daur ulang tersebut tidak bisa terpenuhi karena kondisi sampah kita yang tidak terpilah dengan baik. Dan pemasok terbesar industri daur ulang tersebut adalah sektor informal.

“Yang ingin saya sampaikan adalah, selama ini suplai chain untuk industri daur ulang kita itu backbone-nya adalah sektor informal. Itu adalah pemulung dan pelapak yang selama ini ada. Mereka mensuplai kurang lebih 84 persen untuk industri daur ulang plastik dan 80 persen untuk kertas,“ tegasnya.

Peran masjid dalam pengelolaan sampah ini juga digarisbawahi oleh CEO Bank Sampah Nusantara Fitria Ariyani yang menjadi pemandu acara. Menurut Fitria, sudah saatnya para pemuka agama, penceramah-penceramah tidak hanya menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan ritual ibadah. Melainkan sudah harus menyentuh bagaimana memikirkan menyelesaikan soal sampah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *