Botolmu Tempat Sampahmu, Cegah Sachet Dikirim ke TPA

Ketika upaya pengurangan (reduce) telah dilakukan, tapi masih saja ada sampah yang muncul, tentu harus dicari solusinya. Apalagi ketika sampah yang muncul adalah sampah yang tidak laku di Bank Sampah, pengepul atau perosok.

Contoh jelasnya sampah sachet, kemasan mi instan dan kue kering atau snack. Seringkali, banyak yang telah berusaha melakukan pengurangan, tapi pada saat tertentu mendapatkan sampah itu. Misal mendapat kiriman atau bantuan sembako yang isinya mi instan dalam kemasan. Atau snack dengan kemasan sachet.

Botolmu Tempat Sampahmu untuk menampung sampah anorganik yang tidak laku seperti sachet. Dengan tujuan agar sampah sachet itu tidak dibakar atau dibawa ke TPA. Tapi bukan untuk mendorong orang untuk nyampah.

Karena tidak laku disetor ke Bank Sampah dan perosok, kebanyakan orang lantas membakar sampah sachet itu atau membuang ke tempat sampah yang kemudian dibawa ke TPA. Nah, agar sampah seperti itu bisa dikelola dengan baik, bisa dibuat kreasi daur ulang atau masukkan saja ke botol plastik bekas.

Ya, kita bisa memanfaatkan botol plastik bekas sebagai penampung sampah sachet atau kemasan yang tidak laku dijual itu. Dengan kata lain Botolmu Tempat Sampahmu! Tutorial membuatnya bisa diklik di sini.

Botolmu Tempat Sampahmu, jika sudah banyak bisa dibuat panggung seperti ini.

Caranya mudah! Sediakan saja botol di tempat kita biasa memasak mi instan atau minum kopi. Usai membuat mi atau membuat kopi, tinggal masukkan sachetnya, pembungkusnya, ke dalam botol. Jika sudah ada beberapa sampahnya, padatkan dengan bambu atau kayu. Tekan sampah itu ke dasar botol. Begitu seterusnya hingga botol menjadi padat dan keras seperti batu bata.

Itulah sebabnya, Botolmu Tempat Sampahmu ini ada yang menyebut sebagai Ecobrick, ada pula yang menyebut Re-brick. Atau Go-brick. Apapun namanya, hal itu harus dilihat sebagai solusi untuk sampah yang sudah ada. Bukan untuk mendorong orang memproduksi sampah dengan alasan telah ada solusinya.

Botol berisi sampah sachet dan plastik bersih-kering dikreasikan sebagai pembatas ruangan.

Oh iya, botol yang sudah penuh, harus ditimbang beratnya. Untuk mengetahui kepadatan botolnya sehingga layak menjadi batu bata. Berat minimal untuk botol 600 ml adalah 200 gram. Sedangkan untuk botol 1.500 ml adalah 500 gr.

Botol hasil pemadatan yang belum mencapai berat minimal, kekerasannya belum maksimal. Botol masih mudah mleyot. Sehingga kurang baik untuk dijadikan batu bata. Oleh karena itu, berat minimal itu yang harus dicapai. Tentu, jika bisa mencapai berat lebih dari itu, kepadatannya semakin baik. Dan botolnya makin keras sehingga makin kuat jika dijadikan batu bata.

Harus diingat pula, Botolmu Tempat Sampahmu yang sudah jadi ini, sebaiknya juga tidak diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Mengapa? Botol plastik yang terkena panas akan mengeluarkan dioksin yang bersitaf toksik. Menjadi penyebab penyakit kanker. (*)

Share

4 Pings & Trackbacks

  1. Pingback: Laju Daur Ulang harus Ditingkatkan! Bank Sampah Bisa Berperan – Bank Sampah Jogja

  2. Pingback: Mimpi UCY, Kampusnya Berseri bagai Cuilan Surga…. – Bank Sampah Jogja

  3. Pingback: Cerita Di Balik Pelarangan Penggunaan Kantong Plastik – Bank Sampah Jogja

  4. Pingback: Menghias Rumah Pimpinan BI, Yuli Cs Menangi Hadiah Jutaan – Bank Sampah Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *