KB dan Bank Sampah

Apa hubungan Keluarga Berencana (KB) dan Bank Sampah (BS)? Barangkali itu yang terpikir di benak Sedulur Bank Sampah. Bagaimana hubungan antara KB dan BS (bukan inisial, nama sebenarnya memang itu hahaha)? Jawaban guyonannya, hubungan KB dan BS baik-baik saja…. J

Jawaban seriusnya, ternyata hubungannya memang baik-baik saja. Hubungannya sangat erat. Kendati masih suasana social distancing hehehe….

Hubungan baik itulah yang terlihat saat webinar Expert Group Meeting BKKBN yang membahas CoE Family Welfare and Happiness di tingkat International, Jumat (26/6). CoE singkatan Center of Excellence.

Mantan Bupati Kulonprogo yang kini menjabat sebagai Kepala BKKBN Pusat.

Webinar digelar oleh Pusat Pelatihan dan Kerjasama Internasional Kependudukan (PULIN) BKKBN. Sebagai tindak lanjut hasil pengembangan model pilot project Lingkungan Sehat, Keluarga Sejahtera (LSKS).

Juga tindak lanjut Program Pengembangan Kampung Keluarga Berencana menuju Center of Excellence Family Welfare and Happiness di tingkat internasional. Pilot project dilakukan di Desa Bugel, Panjatan, Kulonprogo.

Program BKKBN ini bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan UGM serta didukung Pemerintah Republik Seychelles. Saat ini, Kepala BKKBN adalah Hasto Wardoyo, mantan Bupati Kulonprogo.

Family Welfare and Happiness (kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga) itu bisa tercapai jika lingkungannya bersih dan sehat.

Hubungan erat KB dengan Bank Sampah itu awalnya diungkap oleh Duta Besar Republik Seychelles untuk Indonesia His Excellency Mr Nico Barito. Selaku narasumber, Nico Barito menjelaskan bahwa Family Welfare and Happiness (kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga) itu bisa tercapai jika lingkungannya bersih dan sehat.

Tidak mungkin dalam lingkungan yang kotor dan buruk, bisa muncul warga yang sehat, sejahtera dan bahagia. “Harus dimulai dari environment, lingkungan,” tegas Utusan Presiden Republik Seychelles untuk ASEAN ini.

Nico mencontohkan negaranya. Dengan penduduk hanya 100 rb jiwa, Seychelles tidak memiliki sumber daya alam melimpah seperti minyak, gas atau hasil bumi lainnya. Karenanya, Seychelles mengandalkan alam dengan pariwisata. Maka tak ada jalan lain selain menjaga lingkungan.

Mereka berprinsip “Sehat lingkungannya sejahtera warganya” . Dalam bahasa BKKBN dikenal Lingkungan Sehat Keluarga Sejahtera (LSKS). Maka semua sampah di Seychelles pun diolah menjadi berdaya guna.

Webinar Expert Group Meeting yang digelar BKKBN menindaklanjuti pilot project Family Welfare and Happiness di Desa Bugel, Panjatan, Kulonprogo.

Pengalaman Seychelles itulah yang siap diberikan ke Kulonprogo. Program yang ditawarkan keren Citizen Care for Environment. Nanti Bank Sampah mendapat akses alat pengolahan sampah dengan prinsip “satu botol menjadi satu produk daur ulang baru”.

Tiap rumah di Desa yang menjadi pilot project CoE Family Welfare and Happiness ini juga mendapatkan alat pengolah sampah. Itu di tingkat desa. Atau Kalurahan dalam UU Keistimewaan.

Di tingkat Kabupaten, program yang ditawarkan adalah kalorisasi. Mengubah sampah di TPA Banyuroto menjadi Green Biochar yang besaran energinya sekitar 3000 kalori. Bisa dipakai untuk bahan bakar mixing dengan batubara. Di negara lain yang telah dibantunya, Biochar ini dijual ke pabrik semen Holcim.

Gerbang Desa Bugel, Panjatan, Kulonprogo. Terlihat desa yang bersih dan asri. (Foto: website Desa Bugel)

Tapi hal terpenting yang Pak Dubes sampaikan adalah perubahan habit. Kebiasaan. Kebiasaan membuang sampah seenaknya, membuang puntung rokok sembarangan, harus dihentikan. Diganti dengan habitus baru memilah dan mengolah sampah.

Saya yang diundang sebagai penanggap menegaskan bahwa program yang ditawarkan Dubes Republik Seychelles ini sepertinya ‘Mimpi yang menjadi kenyataan.’ Ini merealisasikan ‘janji yang tertunda.’

Pada HPSN 2018 di Pantai Trisik Kulonprogo, terjadi MoU Pemkab dengan satu pihak yang siap mengolah sampah lewat program Zero Waste. Pihak tersebut akan mengawali dengan mengelola 5.000 rumah tangga. Tapi sampai kini tak ada kabar….

Saya mengingatkan kendati nanti ada alat atau mesin pengolah sampah yang canggih, sikap utama yang mesti dilakukan tetap Reduce, mengurangi timbulan sampah. “Jangan mentang-mentang sudah bisa diolah terus seenaknya nyampah“.

Kedua prinsip pemilahan. Gerakan pilah sampah dari rumah harus terus dilakukan. Mesin pengolah atau industri daur ulang tidak menerima sampah campur. Apalagi organik dengan anorganik. Sampah yang tercampur agar bisa didaur ulang, memerlukan effort yang lebih besar. Dan itu perlu beaya, waktu dan tenaga.

Ketiga, saya sampaikan pentingnya jejaring (network), sinergi dan kolaborasi.  Saat ini, di data yang ada, Desa Bugel memiliki dua bank sampah. Bank Sampah tahap pemula yang masih perlu pendampingan dalam pengembangan. Maka, bank sampah tersebut harus membuat jejaring, bersinergi dan berkolaborasi dengan bank sampah lain. Baik di tingkat kabupaten Kulonprogo maupun DIY.

Saya menegaskan, kami dari Paguyuban Bank Sampah DIY siap mendampingi. Siap memperkuat jejaring, siap bersinergi dan berkolaborasi. Karena kami menyambut baik Republik Seychelles yang siap membantu Kabupaten Kulonprogo dalam pengelolaan sampah melalui program BKKBN ini.

Dan ini semakin meneguhkan hubungan KB dengan BS. Seperti logo dari Genre (Generasi Berencana) milik BKKBN yang persis dengan Salam 3R, salam milik pegiat Bank Sampah. (*)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *