Ini Jawaban Unilever soal Penanganan Sampah Plastik

INILAH jawaban yang selama ini ditunggu banyak pihak. Jawaban dari perusahaan besar yang selama ini menjadi produsen plastik, Unilever Indonesia. Apa saja yang sudah dilakukan Unilever dalam upaya menangani sampah plastik?

Baca : Daur Ulang harus Ditingkatkan

Saat webinar dengan tema Sampah dan Upcycling : Harmoni dan Akselerasi dalam Pengelolaan Sampah Plastik, Selasa (21/7). Wakil dari Unilever yang tampil adalah Maya Tamimi. Maya Tamimi  adalah Head of Sustainable Environment Yayasan Unilever Indonesia. Ia diminta berbicara seputar Strategi Produsen dalam Reduksi Potensi Timbulan Sampah sebagai Dampak Konsumtivitas Masyarakat.

Dalam webinar yang digelar Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (Himpasiling UI) bekerja sama dengan Unilever Indonesia Foundation (Yayasan Unilever Indonesia), Maya membawakan paparan Keeping Plastic Out of the Environment & In the Economic. Kata Out dan In dengan huruf tebal.

Maya pun menegaskan bahwa plastik bermanfaat secara ekonomi tapi tidak boleh tercecer di dalam lingkungan. Sebagai produsen kebutuhan rumah tangga, Unilever yang telah berusia 86 tahun, kini memiliki 9 pabrik, 5.000 pegawai dan 42 brand.

Baca: Pentingnya Kolaborasi Bank Sampah-Perusahaan

Diuraikannya, tujuan bisnis perusahaannya adalah ingin mengajak semua pihak untuk berperilaku mendukung keberlanjutan lingkungan. Karena hal itu bukan masalah satu pihak. “Itu urusan semua pihak, pemerintah, produsen dan masyarakat. Perilaku dan mendukung kehidupan yang lebih berkelanjutan,“ tegasnya.

Secara tegas Maya mengatakan, bahwa menjaga plastik tetap di dalam ekonomi itu penting. Hal tersebut didasarkan pada survei yang dilakukannya bersama Sustainable Indonesia. Sejumlah temuan survei di awal 2020 itu menunjukkan data bahwa laju daur ulang plastik di wilayah Jawa perkotaan (61% total di Jawa) hanya sebesar 11.8%. Lebih dari 88% yang tidak terdaur ulang. Apakah berakhir di TPA atau mencemari lingkungan.

Baca: 22 Kota Siap Larang Sampah Plastik

Orang Indonesia yang peduli dengan isu sampah plastik ini baru 18,6 persen. Masih banyak PR untuk mengajak masyarakat peduli sampah lingkungan,“

Terungkap pula bahwa kota-kota besar mempunyai laju daur ulang lebih besar daripada rural area. “Yang jauh dari kota daur ulangnya lebih rendah. Sebagai contoh angka lajur daur ulang di Surabaya 22%, Jakarta 24%,“ urainya.

Survei juga mendapati kenyataan bahwa perilaku daur ulang itu, 80% sangat terbantu dengan kiprahnya para pemulung (waste taker). Sektor informal ini sangat berperan terjadinya daur ulang untuk Indonesia.

Baca: Panduan Bank Sampah saat Pandemi

Kemudian, ada data orang Indonesia yang peduli dengan isu sampah plastik ini baru 18,6 persen. “Masih banyak PR untuk mengajak masyarakat peduli sampah lingkungan,“ ujarnya.

Alumnus Imperial College London ini lantas membeberkan Komitmen Unilever dengan target 2025. Yakni ingin memastikan plastik yang digunakan ada di dalam circular economy. Dalam mencapai komitmen itu, Unilever punya tiga komitmen besar.

“Yang pertama, memangkas setengah dari penggunaan virgin plastic atau plastik baru dalam produk. Kedua, menggunakan 100% kemasan yang reusable, recycleable maupun compostable. Ketiga, collect and process more than we sell. Mendesain kemasan, produk memastikan adanya reduksi pasca produksi. Inilah upaya untuk memastikan pengurangan sampah dan memastikan plastik tetap berada di lingkaran ekonomi,“ jelas Maya.

Baca juga: Hubungan KB dan Bank Sampah

Ditambahkannya, untuk mewujudkan semua komitmen itu, pihaknya tidak bisa sendirian. Ada peranan banyak pihak untuk memastikan itu semua bisa terjadi.

Maya lantas juga menguraikan wujud dari implementasi  komitmen itu. Di antaranya pendekatan untuk sustainable plastic packaging. Mulai dari prinsip less plastic, better plastic dan no plastic.

Misalnya prinsip Less plastik, dengan memaksimalkan ukuran, mengurangi ketebalan gramasi, beratnya, mengurangi kandungan plastiknya. Kemudian prinsip better plastik, dengan menggunakan plastik daur ulang dalam kemasan. Maya mencontohkan sejumlah produk yang 100% memakai r-PET (recycled PET) maupun r-PE (recylced PE).

Baca : Cegah Sachet Dikirim ke TPA

Sedangkan prinsip No Plastic diwujudkan dengan pembuatan sikat gigi dengan gagang bambu. Juga penyediaan stasiun isi ulang produk di Bintaro. “Ada 11 produk yang bisa dibeli dengan kemasan dan refill di situ. Proses ini masih pilot. Untuk memastikan, produk yang sampai ke konsimen kualitasnya sama dengan yang ada di stasiun. Kalau ada respon yang lebih besar, akan disebarkan di banyak tempat, “ paparnya.

Maya juga memaparkan perjalanan sampah plastik. Mulai dari awal timbulan sampah, diambil pemulung atau disetor ke Bank Sampah/TPS 3R atau tercecer di lingkungan. Bisa juga langsung dibawa ke TPA karena pola Kumpul Angkut Buang. Lantas diceritakan pula proses akhir sampah plastik hingga mewujud pada bentuk baru menjadi polimer lagi. Misalnya melalui proses kimia, mekanikal yang bersifat downcycling, maupun pirolisis menjadi bahan bakar.

Disebutkan, Unilever juga aktif melakukan edukasi terhadap konsumen dan gerakan pengumpulan kemasan kembali. Baik lewat program Green and Clean maupun pendampingan Bank Sampah. Maya lantas menyebut 3.859 bank sampah seluruh Indonesia dan 76 drop box di Jawa Timur yang semuanya telah mengelola 4.000 ton sampah plastik. (wan)

Share

One Ping

  1. Pingback: Webinar Nasional Eksistensi Bank Sampah Daftar Di Sini – Bank Sampah Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *