Reaktor Cacing dan Magot, Cara Kelola Sampah Organik Jadi Kompos

Inilah dua cara pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Reaktor Cacing dan “Reaktor“ Magot. Mungkin begitu untuk memudahkan penyebutan. Kedua cara tersebut diuraikan dengan gamblang oleh ahlinya.

Reaktor cacing diuraikan oleh Puji Heru Sulistiyono. Ketua Lembaga Pendidikan, Pelatihan, Penelitian, dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (LP4LH) DIY. Puji membawakan materi Reaktor Cacing dan Pemanfaatannya.

Puji H Sulistiyono dan Chandra W Purnomo.

Sedangkan, soal “reaktor“ Magot, disampaikan oleh Chandra W Purnomo. Sekretaris Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM ini menyampaikan materinya dengan judul Pengomposan dan Pemanfaatan Magot BSF. BSF itu singkatan Black Soldier Fly atau lalat hitam.

Kedua materi tersebut disampaikan dalam Webinar “Potensi Pengelolaan Sampah Organik Jadi Kompos.“ Acara ini kerjasama Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sleman, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII), Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UII, Butik Daur Ulang Project B Indonesia, dan PT. Virama Karya.

Sebelum menjelaskan soal Reaktor Cacing, Puji menguraikan pula pemanfaatan kemasan plastik sebagai polibag. Tidak hanya untuk menanam tanaman bunga tapi juga tanaman keras seperti kedondong. Puji menunjukkan contoh-contohnya langsung.

Soal pengomposan, Puji mencontohkan pemanfaatan lubang di tanah. Dia bikin tiga lubang. Diisi mulai yang pertama penuh. Lalu beralih ke lubang kedua. Jika penuh beralih ke lubang ketiga. Saat lubang ketiga penuh, lubang pertama sudah bisa dipanen.

Puji Heru Sulistiyono

Puji lantas masuk ke reaktor cacing. Idenya dari cara beternak cacing sistem konvensional. Yakni wadah (kotak) media budidaya horizontal, diubah menjadi vertikal. Jika yang konvensional harus di bawah naungan atap, untuk menghindari curahan air hujan. Inovasi kandang vertical tidak perlu atap. Karena air bisa langsung mengalir ke bawah. Kelembaban media budidaya dilakukan dengan penyiraman mempergunakan gembor.

Reaktor cacing pernah diikutkan dalam lomba teknologi tingkat DIY pada tahun 2015 dan meraih juara II. Kini, reaktor cacing tersebut telah diberikan sertifikat paten oleh Dirjen HKI Kemenkumham Republik Indonesia dengan nama Wadah Budidaya Cacing. Sertifikat ini memiliki No. Paten: IDP 000059977 dan dikeluarkan tanggal 21 Juni 2019.

Pada awal-awal penelitian, Reaktor Cacing berbahan bambu. Dimanfaatkan untuk pengolahan sampah organik dipadukan dengan budidaya unggas (ayam kampung, itik dan ayam kalkun). Reaktor berbahan bambu seperti ini hanya dapat bertahan 3 – 4 tahun. Puji lantas mengembangkannya dengan bahan lain yang bisa bertahan lebih lama.

Selain reaktor cacing, Puji juga mengenalkan Samsah (sampah basah). Pengelolaan sampah organik (basah) yang kemudian juga memancing lalat hitam dan magot. Pemaparan seputar magot lebih detil disampaikan oleh Chandra W Purnomo.

Chandra mengawalinya dengan paparan mengenai kondisi TPA/TPS yang penuh dengan sampah. Sampah rumah tangga yang tercampur. Tidak dipilah. Ia menyebutkan, risiko dari sampah campur yang menumpuk di TPA ini bisa menghasilkan air lindi, bau menyengat, gas beracun dan gas metana. Gas metana ini mudah meledak dan terbakar. Ledakan besar pernah terjadi di TPA Leuwigajah hingga menewaskan ratusan orang. Peristiwa yang kemudian dikenang sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Disebutkan pula, komposisi terbesar sampah yang dikirim ke TPA adalah sampah organik. Berkisar 60% dari total sampah. Padahal, kata Chandra, semestinya sampah organik itu bisa dikelola dan tidak dikirim ke TPA. Salah satu cara pengelolaan adalan dengan mengompos sampah organik. Agar sampah bisa dikelola dengan baik, kuncinya adalah pemilahan.

Pilah atau pisahkan sampah organik dan anorganik. Yang organik dikomposkan (komposting), yang anorganik bisa disetorkan ke bank sampah untuk masuk ke industri daur ulang.

Komposting, ini cocok untuk sampah organik seperti sampah taman dan sapuan. Bisa digabungkan dengan sampah dapur. Tapi, tidak direkomendasikan dicampur sisa makanan basah.

Pengomposan juga bisa memanfaatkan bantuan BSF. Lalat hitam. Pasukan lalat hitam ini akan mengurai sampah organik dengan cepat. “BSF hampir merupakan pemakan segala material organik yang sudah mati. Membutuhkan makanan yang sangat banyak sehingga dapat menjadi solusi untuk pengolahan sampah organik. BSF juga dapat berreproduksi dengan cepat, karena satu ekor bisa menghasilkan 500 telur,“ urai Chandra.

Siklus hidup Lalat Hitam (BSF).

Dijelaskan pula bahwa BSF atau lalat hitam ini bukan lalat yang kotor. BSF merupakan organisme yang bersih karena sistem pencernaannya dapat membunuh bakteri pathogen yang kemungkinan muncul dari makanan yang dikonsumsinya. Lalat BSF tidak makan. Ia hidup hanya untuk kawin dan mati. Yang jantan, begitu kawin, mati. Yang betina, begitu bertelur mati.

Budidaya magot ini bisa dilakukan dalam skala besar. Bisa pula dalam skala kecil. Yang skala besar dengan kendang. Kandang dibuat untuk mengendalikan BSF agar tidak terbang ke mana-mana. Sehingga bisa bertelur pada tempat yang telah disediakan di kendang. Sedangkan skala kecil, bisa dilakukan dengan teknologi Ember Tumpuk.

Penulis buku Solusi Pengelolaan Sampah Kota ini menegaskan teknologi magot akan menyelesaikan permasalahan pengolahan sampah organik mudah busuk. Kemudian, pemanfaatan magot menjadi alternatif pakan ikan dan ternak. Bekas maggot merupakan pupuk organik dengan kandungan nutrient yang baik.

“Komunitas lalat hitam dapat mencegah koloni lalat rumah/ lalat hijau untuk meletakkan telur. Dan BSF ini bukan vektor penyebar penyakit karena lalat dewasa hanya mengonsumsi cairan seperti nectar (pada habitat alami) atau air gula (pada pembudidayaan). Lalat hitam merupakan detritivor dan coprovor (pemakan sisa), “ tegas Chandra.

Ditegaskannya pula, lalat hitam ini dapat secara signifikan mereduksi koloni Eschericia coli (bakteri penyebab diare) dan Salmonela enterica (bakteri penyebab demam tifoid) pada percobaan pakan dengan kotoran ayam.

Intinya, pengelolaan sampah organik tengan teknologi magot memiliki banyak manfaat. Selain magotnya bisa digunakan sebagai pakan ikan/unggas, air lindi dari media magot bisa dimanfaatkan untuk pupuk cair. Dan bekas media magot (kasgot) untuk pupuk kompos.

Anda tertarik budidaya magot?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *